Uji & Metode Penghilangan Pyrogen


TECHNOLOGI SEDIAAN STERIL
MAKALAH
UJI & METODE PENGHILANGAN PYROGEN







OLEH
KELOMPOK I









======================================================================
BAB I
PENDAHULUAN

Sejak zaman purbakala, demam telah dikenal sebagai tanda utama penyakit,tetapi pengertian tentang patofisiologi demam tergolong relatif masih baru. Substansiyang dapat menimbulkan demam disebut pirogen. Ada dua macam pirogen, yaitu pirogen endogen yang dibentuk oleh sel-sel tubuh sebagai respons terhadap stimulusdari luar (misal: toksin), dan pirogen eksogen yang berasal dari luar tubuh. Pada1948, dr. Paul Beeson menemukan bahwa demam timbul karena adanya produk sel peradangan hospes yang merupakan pirogen endogen. Belakangan ini, terbukti bahwa fagosit mononuklear merupakan sumber utama pirogen endogen dan bahwa bermacam-macam produk sel mononuklear dapat menjadi mediator timbulnyademam.Dewasa ini diduga bahwa pirogen adalah suatu protein yang identik denganinterleukin-1. Di dalam hipotalamus zat ini merangsang penglepasan asam arakidonatserta mengakibatkan peningkatan sintesis Prostaglandin E2 yang langsung dapatmenyebabkan suatu pireks.
Pembuatan air untuk obat suntik harus menggunkan cara-cara yang sesuai untuk menghilangkan pirogen dari produknya. Karena pirogen adalah senyawa organic, maka satu cara yang lebih umum dalam memudahkan pemusnahan pirogen adalah dengan mengoksidasi pirogen menjadi gas yang mudah dibuang atau menjadi padatan yag tidak mudah menguap, keduanya dapat dipisahkan dengan mudah dari air dengan penyulingan bertingkat. Kalium permanganate adalah zat pengoksid yang biasa dipakai, efisiensinya akan ditingkatkan oleh penambhansejumlah kecil barium hidroksida yang menyebabkan larutan bersifat basa dan membentuk garam-garam barium yang tidak mudah menguap, dengan senyawa-senyawa asam yang ada. Kedua pereaksi ini ditambahkan ke air yang sebelumnya telah disuling beberapa lama, dan proses penyulingan dilindungi lagi, hasil pelindungan yang bebas dari zat kimia ditampung dengan kondisi yang benar-benar aseptis. Bila cara ini diikuti dengan tepat, metode ini menghasilkan air yang kemurniannya tinggi, steril, dan bebas pirogen. Akan tetapi, pada setiap keadaan uji pirogen yang ditentukan harus dilakukan untuk menjamin tidak adanya senyawa-senyawa yang menimbulkan demam.





 ============================================================ 








BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.     Definisi
1.     Pyrogen
-       Ensiklopedia Vol.II : 203
      Pirogen atau bakteri endotoksin adalah produk metabolit dari pertumbuhan mikroba. Pirogen larut air, lipopolisakarida tahan panas dan tidak dapat dihancurkan melalui sterilisasi uap atau filtrasi
-       Ansel : 339
      Pirogen adalah senyawa oganik yang menimbulkan demam, berasal dari pengotoran mikroba dan merupakan penyebab banyak reaksi-reaksi fibril yang timbul pada penderita yang menerima suntukan i.v
-       Scoville’s : 195
            Istilah pirogen berarti “memproduksi demam”, pirogen ini dimana merupakan bahan-bahan yang dibentuk oleh mikroorganisme, kadang-kadang hadir dalam cairan parenteral dan memproduksi reaksi demam ketika larutan dinjeksikan pada pasien.
-       RPS 18 th :1590
      Pirogen adalah merupakan produk pertumbuhan mikroorganisme. Bahan pirogenik yang paling berbahaya adalah yang dihasilkan oleh bakteri gram negatif (endotoksin) tetapi gram positif dan fungi juga menghasilkan bahan pirogenik yang kurang berbahaya
-       SDF : 44
   Pirogen disefinisikan sebagai produk metabolit dari mikroorganisme hidup atau mikroorganisme mati yang menyebabkan respon piretik spesifik setelah penyuntikan.

2.    Definisi Endotoksin
Endotoksin merupakan suatu produk mikroorganisme terutama dari bakteri gram negatif yang terdiri atas suatu senyawa kompleks lipopolysaccharida yang pyrogenic, suatu protein dan suatu lipid yang innert. Pada saat ini endoktoksin diketahui merupakan pirogen yang paling, kuat, namun kehadiran pirogen lain dalam suatu sediaan perlu diperhitungkan; karena manusia tidak hanya respon terhadap endoktoksin saja tetapi juga pirogen yang lain (Suwandi,1988).
B.      Cara Uji Pirogen
Uji pirogen (FI IV 908-909)
            Uji pirogen dimaksudkan untuk membatasi resiko reaksi demam pada tingkat yang dapat diterima oleh pasien pada pemberian sediaan injeksi. Pengujian meliputi pengukuran kenaikan suhu kelinci setelah penyuntikan larutan uji secara i.v dan ditujukan untuk sediaan yang perlu penyiapan pendahuluan atau cara pemberiannya perlu kondisi khusus ikuti petunjuk tambahan yang tertera pada masing-masing monografi.
            Alat dan pengencer. Alat suntik, jarum dan alat kaca dibebas pirogenkan dengan pemanasan pada suhu 250o  C selama tidak kurang dari 30 menit atau dengan cara lain sesuai dengan perlakuan semua pengencer dan larutan untuk pencuci dan pembilas alat suntik dengan cara sedemikian rupa yang dapat menjamin alat tersebut steril dan bebas pirogen. Lakukan uji pirogen terhadap pengencer dan larutan pencuci dan pembilas secara berkala. Apabila digunakan injeksi NaCl sebagai pengencer, gunakan injeksi yang mengandung larutan NaCl PO 9 %.
1.     Rabbit Test
Rekaman suhu. Gunakan alat pengukur suhu yang teliti seperti termometer klinik atau termistor atau alat sejenis yang telah dikalibrasi untuk menjamin ketelitian skala kurang lebih 0,1 yang telah diuji bahwa pembacaan suhu maximum tercapai <5 menit masukkan alat pengukur suhu kedalam anus kelinci dengan kedalam tidak < 7,5  cm dan sesudah jangka waktu tudak kurang dari yang telah ditetapkan sebelumnya, tekan suhu tubuh kelinci.
Hewan uji. Gunakan kelinci dewasa yang sehat. Tempatkan kelinci satu ekor dalam satu kandang dalam ruang dengan suhu yang seragam antara 20-23o dan bebas dari gangguan yang menimbulkan kegelisahan. Beda suhu tidak boleh berbeda kurang lebih 3o dari suhu yang telah ditetapkan. Untuk kelinci yang belum pernah digunakan untuk uji pirogen, adaptasikan kelinci tidak boleh lebih dari tujuh hari dengan uji pendahuluan yang meliputi semua tahap pengujian yang tertera pada prosedur, kecuali penyuntikan, kelinci tidak boleh digunakan untuk uji pirogen lebih dari sekali dalam waktu 48 jam atau sebelum 2 minggu setelah digunakan untuk uji pirogen bila menunjukkan kenaikan suhu maksimal 0,6o atau lebih.
Prosedur. Lakukan pengujian dalam ruang terpisah yang khusus untuk uji pirogen dan denagn kondisi lingkungan yang sama dengan ruang pemeliharaan, bebas dari keributan yang menyebabkankegelisahan. Kelinci tidak diberi makan selama waktu pengujian. Minum dibolehkan pada tiap saat, tetapi dibatasi pada saat pengujian. Apabila pengujian menggunakan termistor, masukkan kelinci kedalam kotak penyekap sedemikian rupa sehingga kelinci tertahan dengan letak leher yang longgar sehingga dapat duduk dengan bebas. Tidak lebih dari 30 menit sebelum penyuntikan larutan uji, tentukan “suhu awal” masing-masing kelinci yang merupakan dasar untuk menentukan kenaikan suhu. Beda suhu tiap kelinci dalam satu kelompok tidak boleh lebih 1o dan suhu awal setiap kelinci tidak boleh lebih dari 39,8o
Kecuali dinyatakan lain pada masing-masing monografi, suntikkan 10 ml/kg bb, melalui vena tepi telinga 3 ekor kelinci dan penyuntikan dilakukan waktu 10 menit. Larutan uji berupa sediaan yang bila perlu yang dikonstitusi seperti yang tertera pada masing-masing monografi dan disuntikkan dengan dosis seperti yang tertera. Untuk uji pirogen alat atau perangkat injeksi, gunakan sebagai larutan uji hasil cucian atau bilsan dari permukaan alat yang berhubungan langsung dengan sediaan parenteral, tempat penyuntikan atau jaringan tubuh pasien. Semua larutan harus bebas dari kontaminasi. Hangatkan larutan pada suhu 37o + 2o sebelum penyuntikan. Rekam suhu berturut-turut antara jam ke-1 dan jam ke-3 setelah penyuntikan dengan selang waktu.
Penafsiran hasil. Setiap penurunan suhu dengan nol. Sediaan memenuhi syarat apabila tak seekor kelinci pun menunjukkan kenaikan suhu 0,5o atau lebih. Jika ada kelinci yang menunjukkan kenaikan suhu 0,5o atau lebih. Lanjutkan pengujian dengan menggunakan lima ekor kelinci. Jika tidak lebih dari tiga ekor dari 8 ekor kelinci masing-masing menunjukkan kenaikan suhu 0,5o atau lebih dan jumlah kenaikan suhu maksimal 8 ekor kelinci tidak lebih dari 3,3o sediaan dinyatakan memenuhi syarat bebas pirogen.

2.    LAL
Baru-baru ini telah ditemui bahwa ekstrak sel darah ketam sepatu kuda (Limulus polyphemus) mengandung system enzim dan protein yang menggumpal bila ada liposakarida dalam jumlah kecil. Penemuan ini, merangsang perkembanga uji Limulus amebocyte lysate (LAL) untuk mengetahui adanya pirogen dalam kerja penelitian dan pengawasan selama proses berlangsung. Usulan-usulan untuk uji produk akhir obat dengan LAL sedang dipertimbangkan oleh FDA. (Ansel, 1989)
Uji LAL adalah metode spesifik untuk bakteri endotoksin, hanya untuk pirogen yang signifikan pada kebanyakan pabrik farmasetikal dan peralatan medis. Test didasarkan pada mekanisme primitive penggumpalan darah dari kepiting seperti Kuda Amerika (Limulus polyphemus). Berberapa enzim diletakkan pada sel darah amoeba kepiting yang dipicuh oleh endotoksin perpanjangan koagulasi enzimatik yang di akhiri dengan produksi di gel protenose. (Pharmaceutical Practice, 1990)
Test harus dihindarkan dari kontaminasi antimikroba sebelum dihindarkan, test ini penting untuk memastikan bahwa tidak ada factor campuran dalam sediaan, peralatan tidak menyerap endotoksin (seperti pada beberapa plastic) dan sensitifitas dari lisat diketahui. (Pharmaceutical Practice, 1990)
Reagen test LAL disediakan dengan lyopilisasi sel di mubasit limulus. Volume setara reagen LAL dan larutan test (0,1 mikron per masing-masing)dicampurkan dalam gelas tube test elipirogenasi. Tube diinkubasikan pada suhu 37oC selama 1 jam, setelah test wadah dibaca. Tube diambil dari incubator dan diubah. Bekuan oleh yang rusak mengandung energy padatan merupakan factor dari test positif. Ketika digunakan pada bagian ini bekuan gel uji awalnya, melewati test kegagalan dibatasi dan reagen sensitive LAL. (Pharmaceutical Practice, 1990)
Test LAL tambahan test ini dapat digunakan dalam laboratorium farmaseutikal. Test ini spesifik untuk endotoksin gram negative, dimana test pirogen kelinci sensitive untuk semua pirogen endotoksin dan sumber lain disbanding gram negative. (Pharmaceutical Practice, 1990)

3.    Kuantitatif dan Kualitatif
1. Hidrolisis Asam Basa
Despirogenasi menggunakan hidrolisis asam basa/alkali menurunkan atau menghilangkan aktivasi biologi dari lippolisakarida bakteri dengan aktivasi lemak A. Lemak A adalah rantaiinti polisakarida atau 2 keto 3 asam dioksiketon. Rantai asam 8 karbon asam gula khusus dari LPS bakteri Hidrolisis asam aktif pada asam labil ketosidik ini pada inti yang terpisah dari lemak A dari sisa molekul LPS.
2. Oksidasi
Pengetahuan tentang inaktivasi oksidasi dari endotoksin dapat ditemukan ketika Hanrd melaporkan bahwa sel Salmonella Typosa menghilangkan kapasitas produksi demam ketika dicuci dengan H2O2.  Dari asam lemak yang dihasilkan dalam lemak A dari LPS dapat dianjurkan.
3. Alkilasi
Endotoksin dilaporkan dengan bahan pengalkil menurunkan pirogenitas endotoksin dihilangkan dengan asam anhidrat. Grup yang sama dilaporkan lapisan diturunkan ketika endotoksin digunakan dengan subsinat anhidrat. Disamping mekanisme reaksi ini secara perlahan dengan asetilasi.

C.      Metode penghilangan Pyrogen
Cara menghilangkan pirogen
a.    PTM : 139
      Pirogen dapat dipindahkan dari suatu larutan melalui destilasi dan ini merupakan metode paling tua untuk memperoleh air bebas progen, dasar untuk memperoleh atau memproduksi parenteral volume besar bebas pirogen dalam skala besar. Ultrafiltrasi sampai 100 KD adalah alat yang efektif dari penyaringan endotoksin yang mempunyai BM kira-kira 20 KD tetapi pada kenyataannya ukuran agregat paling kurang 1000 KD. Osmosa balik juga efektif memindahkan partikel samapai 1 nm, meliputi endotoksin. Disisi lain, norit aktif, serat asbes dan polipropilen atau politeffiber atau permukaan, seluruhnya efektif menyerap pirogen, utamanya melalui interaksi hidrofobik. Pirogen atau endotoksin yang diadsorbsi dalam permukaan lebih sulit untuk di pindahkan. Permukaan elestomerik seperti pada segel dan penutup tidak dapat dipanaskan. Pirogen disini disyaratkan untuk dipindahkan melalui pembilasan dengan air apirogenik. Banyak permukaan logam atau gelas dapat diolah secara kimia, kebanyakan bahan pengoksidasi seperti peroxid atau permanganat menjadi efektif. Sterilisasi panas kering tidak efektif, tekanan pada 20 psig disyaratkan selama paling kurang 5 jam untuk menghancurkan kebanyakan endotoksin. Metode depirogenisasi ini di pilih untuk permukaan adalah panas kering pada suhu sekitar 160-250oC paling kurang 30 menit kondisi yang baik yang telah diset. Pengolah ini mengasumsikan  bahwa peralatan pada bagian permukaan dapat dipanaskan, dan tentu saja sangat sedikit produk yang dapat diolah dengan cara ini. Wdah gelas, setelah pencucian dengan air untuk injeksi, dikeringkan dan dipanaskan di bawah kondisi aliran laminar pada oven berkesinambungan suhu 250oC atau lebih tinggi. Kondisi ini meliputi kombinasi pengeringan, oksidasi dan pembakaran untuk menghancurkan bahan pirogen.
b.    SDF : 46-47
Pirogen dipindahkan dari air dengan destilasi, pirogen tidak menguap. Destilasi bebas pirogen dikumpulkan dalam wadah steril dan bebas pirogen. Air untuk injeksi, ketika dikumpulkan dalam wadah bebas pirogen dan steril, harus digunakan kurang dari 24 jam untuk sediaan produk parenteral yang disterilkan pada periode ini. Jika air untuk injeksi disimpan untuk waktu lebih panjang, air untuk injeksi dapat disimpan dalam wadah bebas pirogen dan steril pada suhu 5-80oC suhu dimana mikroorganisme tidak akan tumbuh, kemungkinan menghilangkan pirogen. Pirogen dapat dihilangkan dari wadah logam dan gelas melalui panas kering. Ketika metode tidak praktis untuk ukutan wadah atau bukan metode pilihan untuk alat-alat pada panas kering, pirogen dapat dihilangkan melalui pembilasan wadah dengan baik dengan air untuk injeksi bebas pirogen, pirogen larut air, dipindahkan melalui pembilasan yang diulang.
c.    RPS 18th : 1850
Pirogen dapat dihancurkan melalui pemanasan pada temperatur tinggi. Prosedur yang direkombinasikan untuk depirogenasi gelas dan peralatan adalah pemanasan pada suhu 250oC selama 45 menit. Telah dilaporkan bahwa 650o selama 1 menit atau selama 4 jam diharapkan dapat menghancurkan pirogen. Hal itu dipastikan bahwa pencucian yang teliti dengan deterjen akan menjadikan wadah gelas bebas pirogen jika dilindungi selama proses produksi dan penyimpanan dari kontaminasi pirogen berat. Putaran autoklaf biasa tidak bisa melakukan hal ini. Pemanasan dengan alkali kuat dan atau larutan oksidasi akan menghancurkan pirogen. Suatu metode yang digunakan untuk memindahkan pirogen dari larutan adalah adsobsi dalam bahan adsortif. Namun, karena fenomena adsorbsi juga dapat menyebabkan pemindahan selektif dari bahan kimia dari larutan dan filtrat dapat dikontaminasi dengan bahan, metode ini dibatasi penggunaannya.

==============================================================


BAB III
PEMBAHASAN

Pada tahun 1923 Seibert membuktikan bahwa pirogen adalah substansi yang tidak tersaring, thermostabil, dan non – volatile. Pada tahun 1937 Co Tui membuktikan bahwa kontaminasi pirogen ini juga terjadi pada alat-alat seperti wadah-wadah untuk melarutkan obat suntik, juga pada zat kimia yang digunakan sebagai zat berkhasiat. Pirogen dapat bersumber dari:
    Pelarut
    Zat aktif
    Peralatan
    Timbul pada proses penyimpanan

Sifat – sifat pirogen:
•        Thermostabil, sehingga hanya dapat dihilangkan dengan pemanasan pada suhu 650ºC selama 1 menit, 250ºC selama 15 menit atau 180ºC selama 4 jam;
•        Larut dalam air. Sehingga tidak bisa memakai penyaring bakteri;
•        Tidak dipengaruhi oleh bakterisida yang biasa;
•        Tidak menguap, destilasi biasa ada yang ikut bersama percikan air;
•        Berat molekul (BM) antara 15.000 – 4.000.000; dan
•        Ukuran umumnya 1 – 50µm.
Secara garis besar, pirogen dikelompokkan menjadi 2 golongan; yaitu pirogen endogen dan pirogen eksogen.
•        Pirogen Endogen
yaitu faktor-faktor yang berasal dari dalam tubuh kita sendiri sebagai reaksi kekebalan melawan kuman penyakit yang masuk ke tubuh. Misalnya interleukin-1 (IL-1), interleukin-6 (IL-6), alpha-interferon, dan tumor necrosis factor (TNF).
•        Pirogen Eksogen
yaitu faktor eksternal tubuh yang menyebabkan gangguan pada fungsi tubuh manusia. Misalnya bagian dari sel bakteri dan virus. Selain itu, bisa juga berupa zat racun (toksin) yang dihasilkan oleh bakteri atau virus tertentu.
Jika suatu pirogen masuk ke tubuh, maka pirogen menjadi suatu benda asing yang dapat menimbulkan respon imun berupa demam. Demam yaitu suatu keadaan ketika temperatur tubuh di atas batas normal yang dapat disebabkan oleh kelainan dalam otak sendiri atau oleh bahan – bahan toksik yang mempengaruhi pusat pengaturan temperatur. Penyebab – penyebab tersebut meliputi penyakit bakteri, tumor otak, dan keadaan lingkungan yang dapat berakhir dengan serangan panas (Suwandi,1988).
Uji pirogenitas adalah uji yang dilakukan untuk mengetahui apakan suatu sediaan uji bebas pirogen atau tidak, dengan maksud untuk membatasi resiko reaksi demam yang dapat diterima oleh pasien apabila diinjeksi dengan suatu sediaan farmasi (Suwandi, 1988).
Uji pirogenitas biasanya menggunakan kelinci. Pengujian ini ditetapkan di USP pertama kali pada tahun 1942 dan merupakan pengujian resmi untuk menentukan non-pirogenitas sediaan farmasi. Sejak diketahui bahwa endotoksin ternyata mampu menggumpalkan sel darah Limulus, kemudian dikembangkan suatu pengujian untuk mendeteksi adanya endotoksin dengan menggunakan reagensia yang dibuat dari sel darah Limulus. Pengujian ini kemudian dikenal sebagai metodeLimulus Amebocyt Lysate (LAL Test) (Suwandi,1988).
Uji LAL merupakan pengujian untuk memperkirakan konsentrasi endotoksin bakteri yang mungkin ada dalam contoh bahan. Pengujian ini pada prinsipnya merupakan koagulasi protein yang ada dalam reagensia LAL oleh endotoksin. Pengujian tersebut ialah dinyatakan positif apabila terjadi pembentukan gel dan dinyatakan negatip bila tidak terjadi pembentukan gel. Pembentukan gel akan terjadi apabila kandungan endotoksin dalam contoh sediaan lebih besar daripada sensitivitas reagen yang dinyatakan dalam Endotoksin Unit per ml (EU/ml) atau ng/ml (Suwandi,1988).
Pemakaian metode LAL untuk pengujian berbagai bahan yang berkaitan dengan farmasi, antara lain:
·         Pemeriksaan bahan baku untuk parenteral, pemeriksaan air proses untuk parenteral,
·         pemeriksaan elemen filter untuk eliminasi pirogen, menentukan penyebab terjadinya pirogen positip,
·         untuk validasi sterilisasi dry-heat,
·         pengujian produk jadi,
·         radiofarmasi ,
·         larutan untuk hemodialisis dan air untuk mengencerkan larutan hemodialisis (pengujian tidak diperlukan secara resmi),
·         injeksi dengan dosis tunggal lebih besar dari 15 ml,infus
Meskipun demikian, pengujian pirogenitas menggunakan kelinci masih menjadi pilihan utama karena:
·         Metode ini telah lama dikenal dan digunakan untuk menguji berbagai sediaan dan terbukti memberikan hasil memuaskan;
·         Kelinci memiliki sensitivitas terhadap substansi pirogenik yang mirip dengan manusia. Kenaikan suhu kelinci akibat substansi-pirogenik, sampai batas tertentu masih dapat diterima oleh manusia; sehingga kenaikan suhu kelinci tersebut dapat distandardisasi terhadap substansi pirogenik yang dapat diterima manusia. Bangham menyebutkan, uji kelinci menggambarkan seluruh respon farmakologis terhadap pirogen dan relevan dengan respon pada manusia;
·         Metode kelinci mampu mendeteksi semua pirogen termasuk endoktoksin sedangkan LAL tidak.
Sedangkan kelemahan metode uji pirogenitas menggunakan kelinci dibandingkan dengan LAL Test antara lain:
·         Memerlukan pemeliharaan dan perawatan hewan dan laboratorium yang lebih intensif. Hewan harus dipelihara dalam ruangan dengan temperatur tidak jauh berbeda dengan tempat percobaan. Pemeliharaan hewan harus dilakukan dengan sebaik mungkin untuk menghindari infeksi penyakit yang dapat mengganggu percobaan atau mengacaukan interpretasi hasil. Berat badan kelinci harus dijaga jangan sampai mengalami penurunan yang berarti dalam 1 minggu menjelang digunakan;
·         Sensitivitas dipengaruhi oleh musim, kegaduhan, kegelisahan, makanan dan lain sebagainya. Kegelisahan akan dapat menyebabkan kenaikan suhu relatif tinggi, sehingga mengacaukan interpretasi hasil;
·         Variabilitas biologis. Respon setiap kelinci terhadap substansi yang sama belum tentu sama, sehingga terdapat variasi kenaikan suhu pada tiap kelinci.
·         Prinsip uji pirogenitas menggunakan kelinci adalah dengan injeksi intravena ke tubuh kelinci di bawah kondisi tertentu dan selanjutnya dipantau dan dicatat temperatur 3 kelinci dalam jangka waktu tertentu.
Dipirogenasi dapat dicapai dengan 2 cara,yaitu dengan dengan menginaktivasi atau menghilangkan endotoksin. Inaktivasi dapat dilakukan dengan pemurnian molekul lipopolisakarida denganmenggunakan sejumlah besar perlakuan kimia yang memecah / merusak bahan kimia lain/gugus yang dibutuhkan untuk aktivasi pirogenik. Sebagai alternatif lain molekul dapat dirusak secara total dengan menggunakan beberapa metode yang berbeda baik berdasarkan karakteristik fisik dan endotoksin seperti berat molekul dan muatan elektrostatik/afinitas endotoksin pada permukaan yang berbeda.
Uji pirogen dapat ditentukan dengan beberapa cara yaitu:
– Penentuan pirogen secara fisiko kimia. (kuantitatif pirogen)
1. Dengan fotokolorimetri. Reagen Tetrabrom phenolphthalein (TBP) dan penambahan asam acetat 0,2 N, sehingga timbul warna.
2. Polarografi. Pirogen mempunyai panjang gelombang maksimum oksigen pada polarografi.
3. Elektroforesis
4. Spektrofotmetri. Pirogen mempunyai absorbsi spektrum ultraviolet pada E maksimum 265nm.
– Penentuan pirogen secara biologis. (kualitatif dari pirogen)
1. Pengujian pengukuran temperatur badan hewan percobaan. (Rabbit Test)
2. Perhitungan sel darah putih
3. Tes limulus (LAL test)







 ===================================================================





BAB IV
KESIMPULAN

1.     Pirogen adalah senyawa organic yang menyebabkan demam, materi penyebab demam ini adalah lipopolisakarida dari dinding luar sel bakteri.
2.    Metode pengujian pyrogen :
a.    Rabbit test ( dengan menggunakan kelinci sebagai hewan coba)
b.    LAL (Limulus amebocyte lysate) : pengujian dengan menggunakan reagen.
c.    Pengujian dengan kuantitatif dan kualitatif
3.    Depirogenasi dengan Menghilangkan Endotoksin
a.    Pembilasan
b.    Destilasi
c.    Ultrafiltrasi
d.    Osmosa bolak balik
e.    Karbon aktif
f.    Daya tarik elektrosatik dengan jalan modifikasi media
g.    Daya tarik hidrofobik pada media hidrofobik




===============================================================





DAFTAR PUSTAKA

Ansel, Howard C. 1989. “Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi”. Penerbit UI Press : Jakarta
Aulton, Michael. 1990. “ Pharmaceutical Practice”. Oritic Livingston : London, New York
Turco, Salvatore dan Robert E. 1974. “Sterile Dosage Forms”. Published in Great Britain by Henry Kimpton Publishers : London
Gennaro,A.R, et all, (1990), “Rhemingtons Pharmaceutical Science”, 18th Edition, Marck Publishing Company, Pensylvania.
Jenkins, Glen, dkk, (1957), “Scoville’s The Art of Compounding”, MC Growhill, Book Company,New York.
Parrot, Eugene C, (1980), “Pharmaceutical Technology”, Collage of PharmacyUniversity of Iowa,Iowa City.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TUGAS PENDAHULUAN KLTP

Pemeriksaan Urine